Sabtu, 30 Juni 2012

celana

 
Di rumah, ada dua anak malas sekali pakai celana. Kalau mau pakaikan celana sama mereka harus kejar-kejaran dulu dan setelahnya menahan tangannya agar tangannya tidak gerayangan membuka celananya. Tapi begitulah anak-anak, kita bisa 'tak menyangka' melihat keajaiban setiap hari dengan merawatnya.

Suatu malam, mereka semua sudah tidur. Saya harus menahan tawa, ketika mendapatkan boneka TIGER mereka pakekan celana punya adeknya yang baru berumur tiga bulan.


Pernah mati lampu, saya mengajaknya ke halaman dan kebetulan bulan purnama. Saya tanyakan kepada mereka. "Apa itu di langit?" sambil nunjuk bulan penuh. Mereka sebenarnya takut maka mereka menjawab :

Yang besar bilang "Matikangngi!"
Yang kecil bilang "Ciuuuup, ciiiuuup!"

Yah begitulah anak-anak, memakai sandal masuk rumah, corat-coret dinding rumah, bikin laptopku kalau dibuka kayak orang manggut-manggut, anarkis sama kucing, dan sederet lagi ulahnya yang meramaikan rumahku. Hahahah!

 

Kamis, 28 Juni 2012

get the cool shoeshine!


Yeah, siapa coba, itu disenandungkan NOODLE, salah satu karakter band virtual GORILLAZ. Memang tidak terlalu familiar sekarang, karena mereka sudah sering LIVE dengan menampakkan wujud aslinya.

Saya mengenal mereka sekitar tahun 2000an, MTv masih eksis di Indonesia. Dulu, kalau mau menonton MTv AMPUH, chart lagu Indonesia yah harus bangun subuh, kalau pagi sampe malam itu diisi ma musik internasional.

Orang di rumah sih sering marah-marah saya nonton MTv, katanya banyak video yang 'porno', nenekku bilang "Kau itu, Nak. Kau contohmi nanti itu. Kau belajarmi Bahasa Inggris bahasanya penjajah!" Ahaha, lucu juga sentimennya.

Soal musik saya bisa dibilang penikmat segala, ada yang terjaring di otakku sampai-sampai harus nyanyi gak jelas, hanya nyanyi bahasa inggris 'versi' apa yang didengar walau pengucapan sebenarnya salah, yang penting senang.

Ada satu, GORILLAZ, hanya ''get the cool, get the cool shoeshine"nya selalu kulafalkan, bagian lirik lain hanya nananananana doang karena nggak tahu persis liriknya. Hahaha. Video klipnya unik, saya pikir dulu ini kayak semacam trailer film kartun, ternyata ini video klip. Kayaknya mereka juga menginspirasi (baiklah, bukan mencontek) ide video klip kartun WAYANG "Jangan Kau Pergi".

Penasaran sama mereka, hingga suatu hari mereka adakan konser LIVE. Keren sih tapi malah bikin tambah penasaran, yang ada di panggung tuh hanya layar besar yang menampilkan karakter mereka secara raksasa di depan penonton. Nanti pas kuliah baru tahu kalau ini proyeknya Damon Albarn setelah pecah kongsi dengan band BLUR, kerjasama dengan sang komikus "TANK GIRL", Jamie Hewlett. Satu kata, KREATIF!


Rise of the Ogre (halaman 30)


MURDOC sang bassis, karakternya dibikin slenge'an, gila perempuan, suka menganiaya teman-temannya, terutama 2D sang vokalis. Sedangkan RUSSEL, drummer, penyayang binatang dan anak-anak. Tidak terlalu dominan ditampilkan karena dia sendiri dibikin menjadi sosok misterius, beberapa kali menjelma raksasa di beberapa video klip sebagai alter egonya. Favoritku, NOODLE, satu-satunya perempuan di band ini. Dia anak perempuan asal Jepang yang telah diamnesiakan karena dia pernah dilatih untuk keperluan militer 'bawah tanah' di Jepang sana, membentuk kesatuan intel anak-anak yang mahir berperang. Karena dianggap proyek ini terlalu membahayakan akhirnya proyek ini dihentikan. 'Noodle', itulah kata pertama yang diucapkannya ketika bertemu MURDOC yang mencari gitaris untuk bandnya.


Rekomendasi lagu :

1. 19-2000
2. 5/4
3. AMARILLO
4. CLINT EASWOOD
5. DIRTY HARRY
6. FEEL GOOD INC.
7. LATIN SIMONE
8. LEFT HAND SUZUKI METHOD
9. PUNK
10. ROCK THE HOUSE
11. STARSHINE
12. THE SWAGGA

Bah, selusin, ahahaha! Masih banyak sih lagunya, tapi itu yang 'enak' menurut telingaku.

Senin, 25 Juni 2012

satu dari seribu

Iseng saja, upload satu gambar dari file netbook, dari sekian banyak fotonya yang kupelototin tiap hari. Ahahaha!

LIKE A ROLLING STONE lyric

Cerpen 20 lembar yang dipadatkan menjadi sebuah lagu.
Diteriaki JUDAS oleh penggemar sebelum menyanyikannya (1965).
Lagu sekaligus lirik "nomor satu" versi Majalah ROLLING STONE.

SALAH NOMOR

Salah satu ingatan yang mengekang, itulah rindu. Pada masa waktu puncak-puncaknya dijajah oleh skripsi, maunya sms teman yang sama-sama mengurus skripsi malah sering kesasar smsku ke nomornya SIPUT. Begitulah, stres dan kangen sedang kompak mengacaukan saya saat itu. Bahkan pada sebuah kesempatan ada sms dari temannya sepupu minta nomor sepupu saya yang baru.


k OLLI : dek, minta nomornya kDAUS yang baru!
Saya : 081234567890, itu nomornya kDAUS yang baru.


Selang beberapa menit, ada sms dari orang lain, seorang teman yang lama tidak berjumpa.


DAYA : kita kenal OLLI?
Saya : iyya saya kenal, temannya sepupuku tapi tidak terlalu akrab sih. ada bukunya baru terbit.
DAYA : itumi. kenapa dia sms saya bilang ada buku beng mau dikasihkan ma saya.
Saya : o, ada kapang temanta yang kasihkan nomorta sama dia, kan sama-samaki penulis to!


Ada orang yang tak menyadari keteledorannya. Kemudian ada sms lagi.


kOLLI : dek, nomor yang kita kasihka namanya DAYA, saya telpon tadi. bukan nomornya kDAUS.
Saya : oh iyyakah? Saya kirim ulang pale 085678901234. betulmi itu, sori yang tadi k.


Setelah melihat ulang sms-sms tadi, baru saya menyadari bahwa letak kesalahan ini ada pada saya.


Saya : minta maafka, saya yang error, saya kasihkan nomorta padahal itu tadi OLLI minta nomornya sepupuku. namata dan sepupuku sama-sama berawalan huruf D, DAUS dan DAYA.
DAYA : matimijah. ahahahah!


Begitulah, rindu membuat kita kehilangan awas. Kita sibuk mengingat seseorang yang tidak ada di depan kita, kita khawatir dilupakan. Zaman digital begini, memang ada teknologi yang bisa mempertemukan. Namun secanggih-canggihnya teknologi dia tetap tidak akan mempunyai hati, terkadang malah teknologi itulah yang membuat tembok di antara kita.

Saya betah berhp poliponik walau zamannya BlackBerry, yang sudah menggeser sedikit demi sedikit fungsi komputer jinjing. BlackBerry mendekati komputer genggam buat saya, bisa internet dan online di berbagai macam social media. Mereka aktif saling menyahut di sana, berbagi lelucon-lelucon baru dan tertawa-tawa walau dengan tulisan ‘hahahahaha’ atau ‘ngakak guling-guling’ sebagai luapan ekspresi walau tak sebenarnya tak demikian adanya.

Sedangkan saya dan teman saya, telah kehabisan bahan lelucon. Pintu berikutnya tersisa hal-hal serius saja. Saya tahu, serius itu kaku, hubungan yang kaku tak akan bertahan lama. Di dunia maya sana, bahan-bahan lelucon selalu terbaharu dengan alami, kadaluarsa sebuah lelucon maka akan datang seseorang untuk menambal karung lelucon itu sehingga stok kelucuan itu baru dan baru lagi.

Baiklah, teknologi hanya pintu, kau sudah lelah membukanya, kau ingin menutupnya tapi kau khawatir dia akan datang lagi mengetuk pintumu. Kau sudah lupa, bagaimana cara dia mengetuk pintumu agar kau mudah mengenalinya. Kemudian, kau telah asik sibuk merindukannya tanpa perlu lagi kehadirannya.

Itu bukan lupa, itu ‘terlalu’ ingat. Dan... itu menyedihkan!


nb : OLLI, DAYA, dan DAUS, ketiganya bukan nama sebenarnya.

Kamis, 21 Juni 2012

HOW SOON IS NOW?

http://supersonicsounds.wordpress.com/category/skena-internasional/morrissey/


Saya mencoba berkenalan dengan MORRISSEY, bulan lalu beliau konser di Indonesia. Saya mencoba mengenal beberapa musiknya, gara-gara invasi Film 500 Days of Summer, salah satu film dengan soundtrack terbaik yang pernah kutonton. Sepanjang film saya berfikir kalau sutradara film ini sangat mengerti musik, beberapa kali serasa menonton video klip dalam film ini tanpa harus menganggu cerita intinya sendiri. Dan betul sangkaan saya, MARC WEBB memang seorang direct beberapa video klip.
Berkat kerja cemerlangnya di 500 Days of Summer banyak dipuji dan berikutnya dia malah dipercayakan untuk menyutaradai The Amazing Spider-Man yang segera rilis tahun ini juga.

Kenapa malah ngelantur sana-sini, padahal saya hanya mau membagi sebuah lagu. HOW SOON IS NOW?, sebuah lagu yang kudengar saat dibangku sekolah, dinyanyikan oleh duo berasal dari Rusia, T.A.T.U. Beberapa hari lalu kaget mendapatkan info dari hasil penelusuran dunia maya kalau lagu ini ternyata punya The Smiths, ciptaan Morrissey (vokalis) dan Johnny Marr (gitaris). Speechles! Koleksi lagu jadulku bertambah lagi. Wehehehehe...


 

Selasa, 19 Juni 2012

KLAIM

Jam sepuluh malam, baru tiba di rumah. Begitulah tiap hari, semua orang di rumah sudah terlelap. Lapar dan mengantuk, padahal tidak ada makanan yang tersedia. Alangkah beruntungnya tikus yang terdengar mengais-ngais di bawah lemari tiap malam, dia kesana kemari mencari makanan, bagi saya merekalah “pemakan segala” sejati, sabun, kertas, semua diembat. Tapi kemudian saya kecewa, mendapatkan fakta bahwa tikus adalah hewan pengerat, dalam artian mereka punya gigi seri yang terus bertumbuh. Jika tidak sering menggigit maka gigi tersebut ukurannya akan tidak seimbang dengan tubuh  mereka malah bisa-bisa menyakiti tubuh mereka sendiri. Jadi teringat ponakan-ponakanku, saya selalu pura-pura jadi tikus kalau tiba-tiba ada sesuatu yang menginterupsi lelap tidurnya.

Jam sepuluh malam, dengan gontai saya merapikan mobil satu persatu. Remang-remang cahaya, kuberfikir sambil memegang mobil mini mainan ponakanku. Seandainya mobil ini sungguhan, saya tak perlu lagi beli mp3 player untuk menyingkirkan gonggongan anjing depan kompleks, tak butuh lagi jalan buru-buru karena berisik akan petikan gitar para remaja di jalan kompleks, saya tak perlu ditatap dengan penuh curiga oleh penjual nasi goreng, seolah saya bertanggungjawab atas semua kejelekan yang dilekatkan pada malam. Salahkan para pencuri, salahkan para hidung belang, salahkan para pelaku pelecehan seksual yang mengeksploitasi gelap untuk berulah, bukan sayaaaa! Dan… saya tak perlu menyetop beberapa pete-pete yang sopirnya menggeleng saat saya bertanya “Sudiang, Pak?”. Tapi jika saya punya mobil yang saya kemudikan sendiri, maka saya tak bisa lagi tidur di perjalanan dan nanti terbangun ketika pete-petenya bergoyang melalui jalan yang buruk rupa, yang kalau hujan menyerupai empang. Jika jalanan sudah terasa melalui ombak, maka tak salah lagi, kompleks tempatku tinggal sudah dekat.




Ketika jam sepuluh malam, apa yang salah dengan Sudiang? Sebegitu terpencilnyakah sampai-sampai seorang teman bercanda kepada saya “Du, jauhmu dek! Jauh dari peradaban memang tempatmu tinggal.” Saya hanya bisa tersenyum saja, tak bisa tertawa karena bagaimanapun saya telah bernafas di sini selama tujuh tahun terakhir. Seolah Sudiang itu area aneh, menghilang setelah jam sepuluh malam. Saya tidak bisa banyak bekerja di rumah karena banyak pengganggu, terutama dua ponakan yang sepertinya selalu percaya netbookku ini mempunyai daerah rahasia untuk menyembunyikan berbagai hal kesukaan mereka, entah gambar SpongeBob dan kawan-kawannya, iklan lucu, video klip kartun dan semacamnya. Monitor netbookku sudah seperti kepala yang manggut-manggut jika dibuka akibat keanarkisan mereka. Tempat paling aman dan nyaman untuk bekerja yakni di warkop yang ada fasilitas wi-finya. Karena saya masih menganggur, saya berusaha menghemat, dari yang tadinya sangat menyukai cappuccino dingin kini berusaha belajar menyenangi kopi hitam. Mau diapalagi, itulah menu yang paling murah. Orang kaya memesan menu yang paling enak, orang kere memesan menu yang paling murah, begitu kan? Asyik juga ternyata, racikan kopi ala warkop langganan saya lebih pekat daripada yang biasa saya bikin di rumah, lumayan pahit dan justru karena rasanya itulah saya tidak bisa meneguknya seketika itu pula habis.

Akhir-akhir ini jadi sering-sering nonton berita gara-gara Liga EURO, maklum manusia-manusia yang bermukim di rumahku tidak ramah bagi orang yang hobi begadang jadi saya hanya kebagian beritanya saja di keesokan harinya. JERMAN, saya percaya, saya menonton ataupun tidak menonton, kalian (harus) menang!Dua-tiga hari ini, Indonesia gempar lagi akan berita diklaimnya Tari Tor-Tor oleh Malaysia sebagai warisan budaya. Saya kemudian berfikir, tak maukah Malaysia mengklaim Sudiang sebagai wilayahnya? Sayang, Sudiang bukan area perbatasan padahal ada GOR atau Bandara Hasanuddin yang bisa membuatnya menonjol. Hahaha, saya selalu mengira saya sedang berada di sebuah daerah konflik ketika ada pesawat yang lewat di atas kami. Serasa ingin teriak “tiaraaaaaaap!” seperti di film-film perang, serasa masih zaman penjajahan. Suatu malam, saya berharap ada sekelompok alien yang mengamati Sudiang ini dari planet mereka, sebuah daerah ajaib tempatnya akan mendarat kemudian mengklaim daerah ini. Sudiang akan sangat bersinar di malam hari jika dilihat dari atas langit karena bergelimangan teknologi canggih sehingga membuat daerah lainnya iri. Hoaaahm. Maaf, saya mengantuk!

Kamis, 14 Juni 2012

GENGSI

Teman-teman lainnya mungkin telah mengambil sertifikat penambahan namanya masing-masing karena telah dua bulan berlalu setelah nama kami bertambah panjang dengan dua huruf tersebut. Orang tua telah beberapa kali menegur untuk pergi mengambil ijazah saya sedang skripsi ini tak kusentuh sekalipun, seribu lembar omongkosong yang harus dipermak sehingga kelihatan seperti kebenaran.

Saya tidak tahu, mengapa malah semakin memandang diri ini payah dengan kesarjanaan itu? Kebanyakan orang bangga memperlihatkannya, konon selembar itu sangat berguna untuk melamar pekerjaan. Saya malah melihatnya, orang-orang itu telah lebih mengandalkan ijazahnya, bukan dirinya-sendiri. Tidak pede memperkenalkan dirinya dengan ‘iSayah’--- “ini loh saya!” tanpa embel apa-apa.

Setelah mengambil ijazah, agenda terbesar selanjutnya pastilah mencari pekerjaan. Yang paling mudah, memasukkan lamaran ke sebuah (berkedok) perusahaan (malah) jadi sales atau di bank. Jika beruntung sedikit, kita bisa diterima sebagai sales mereka, dengan dibekali brosur tentang fitur-fitur terbaru di bank kemudian menawarkannya kepada orang-orang. Jika beruntung banyak, maksudnya fisik terbilang ‘good-looking’, Anda bisa dipekerjakan di bank, menghitung uang yang disetor dan dikeluarkan melalui kasir.

Dan saya tak memandang lagi, ijazah penting bagi mereka, mereka… pajangan. Maaf yah, ini pendapat saya. Kalau soal menghitung, tanteku yang  sudah tua dan hanya lulusan MTs lebih jago  menghitung daripada mereka. Kalau soal sales, saya lebih senang menyaksikan penjual obat di pasar atau di depan sebuah deretan ruko. Kita bisa melihat pertunjukan di sana, daripada seorang yang mendatangi Anda di waktu tidur siang dan dengan seperti terpaksa berkata ‘Maaf, bisa mengganggu sebentar? Saya ingin menawarkan blablablabla…”. Dua-duanya memang punya kemungkinan untuk menipu, paling tidak yang satunya menghibur yang satunya lagi bikin bosan.

Berbicara mengenai bosan, saya pun bosan dikira lebih cerdas daripada orang-orang kampung yang tidak pernah sekolah tinggi. Bosan dicap bodoh oleh seorang tanteku yang mengatakan “Kau, hanya mengalahkan saya dalam hal sekolah. Kau, tidak tahu apa-apa!”. Yah, tanteku itu benar. Yang kulakukan dari dulu,  hanyalah sekolah, di rumah belajar, jika ada waktu luang bermain. Menjadi benci ke dapur selain untuk makan, jadi tahunya makan saja. Adakah istilah ‘pendidikan yang berlebihan’?, Jika ada, maka hal inilah saya rasa menciderai keperempuanan sekarang.

Saya merindukan zaman-zaman sekolah saya, saya berteman justru dengan orang yang tergolong bukan pintar dan kurang populer, bahkan nakal. Ini seperti menyaksikan Spongebob dalam dirimu, dan teman-temanmu semuanya adalah Patrick. Sesekali membolos atau membuat menangis seorang guru. Membuktikan bahwa diri ini tak sempurna itu asyik dan seru. Sebagaimana, semua orang tidak bisa kau paksakan untuk menyukaimu, dan seperti itulah saya melihat seorang ‘ranking seumur hidup’ dalam kelas-kelas yang saya lalui. Jadi ranking satu, bisa jadi kebanggaan keluarga dan semua orang, tapi jadi nakal, hanya kaulah seorang yang merasakan bagaimana rasanya menjadi ‘brengsek’.

Saya senang mengirim surat waktu masih sekolah. Sayang, daerah saya jauh dari ibukota kabupaten, tukang posnya sepertinya malas menyampaikan langsung jika saya punya surat balasan. Setelah dua-tiga minggu surat-surat untuk saya baru sampai di tangan saya melalui pegawai Kantor Kecamatan yang kebetulan ada tugas ke desa saya. Saat itu, saya bercita-cita ingin jadi tukang pos, yang ikhlas mengantarkan surat-surat sesuai dengan alamatnya. Saya ingin melihat seorang ibu yang senang ketika saya menjulurkan kepadanya sebuah surat dari anaknya dari pulau seberang dan sebagainya, semacam itulah. Sederhana saja! Tapi internet yang sekarang justru kugandrungi pula, telah menggeser posisi Kantor Pos. Saya sebenarnya ingin tahu, siapa-siapa saja yang masih mengandalkan jasa pos, pasti orang-orang kuno, saya jadi ingin mengenal mereka, tapi biayanya mahal sedangkan bualan ini berasal dari seorang pengangguran yang kere.

Cita-cita yang lain, daripada jadi orang kantoran yang merasa punya tempat kerja yang elit dan melimpah akan fasilitas canggih namun membosankan, saya pernah juga membayangkan mengabdikan diri menjadi tukang sapu jalanan. Bangun pagi, masih sepi, terang masih malu-malu muncul di ujung timur sana dan gemerisik sapu menjadi soundtrack setiap pagi. Menjadi tukang sapu jalanan lebih mulia bagi saya daripada jadi orang yang menutup hidung ketika kebetulan bertemu dengan mobil truk pengangkut sampah.



Kakek RERE dalam Serial Kartun BAKABON

Dimasa-masa menikmati menganggur ini, saya berfikir untuk menumbuhkan lagi beberapa cita-cita lama saya tersebut, yang di atas itu hanya dua di antaranya. Tapi sayang, saya sudah terlanjur ‘merasa eksklusif’, karena pernah kuliah, akan mendapat ijazah, tak pantas dan rugi jika melakukan hal-hal sederhana seperti itu. Saya bosan jadi eksklusif, ini seperti menyanyikan lagu Like A Rolling Stone, berhasil menampar semua orang tapi mereka justru lebih cepat sembuh daripada tanganmu yang telah menampar banyak pipi.

Mungkin, saya pun harus berhenti merendahkan para alay. Apa yang salah dengan mereka? Apakah sebuah dosa jika menjadi alay? Ini masalah selera, jika mereka senang hati menyanyikan lagu-lagu band instan, lirik-lirik cengeng, atau meniru dandanan girlband di televisi mengapa kita yang sewot? Mengapa kita yang harus gerah? Kita tak mungkin memaksa mereka untuk menikmati hal-hal yang lebih berkelas (menurut kita). Soal kualitas suara, kita tidak bisa menimpakan kesalahan pada artis yang sering lipsync di acara musik karena jika tidak demikian, biaya yang dikeluarkan oleh stasiun televisi untuk menampilkan suara asli dari sang penyanyi akan lebih banyak. Saya merasa, kita telah terlalu mendzalimi mereka.

Karena Dion Indonesian Idol mengjazzkan “Sik Asik”nya Ayu Ting-Ting, kemudian kita menilai versi dangdut koplonya jadi terdengar murahan. Jika mereka lebih suka Ayu Ting-Ting yang meriah dan ceria, kita tidak bisa memaksa mereka untuk suka versi Dion yang lebih groovy dan glamour. Ini masalah selera. Saya tidak tahu mengakhiri tulisan saya yang ini…

Minggu, 10 Juni 2012

Masih Malam Minggukah?

Seekor ikan jatuh cinta pada sebuah bulan purnama, dia menciumnya dari permukaan air. Kemudian dia berfikir jika bisa, dia akan memakan bintang-bintang kecil itu seperti dia melahap para plankton di lautan.

MBAK DUKUN

Kata SIPUT, saya mengerikan, terkadang membuatnya takut dengan opini-opiniku tentang masa depan seseorang. Saat tahun kedua kuliah, sahabat saya yang lain si KEONG punya geng sendiri, sering mengajak dia jalan-jalan. Tapi, kasiyan juga si KEONG, senangnya sama-sama, pas susah-susah dia sendirian. Jika ada tugas, dia diborong ma teman-temannya. Itulah yang kulihat.

Suatu siang, saya berkata kepada SIPUT. “Keong itu dimanfaatkan saja, kasiyan! Nanti mereka akan abaikan dia.” Dan kejadianlah, apalagi pas skripsi, tapi si KEONG sukses selesai lebih awal. Mentalnya telah terlatih untuk melaksanakan banyak tugas.  Dimanfaatkan, itu kata saya, tapi bagi dia itu latihan. Begitulah orang yang baik, seperti teman saya si KEONG ini.

Beda lagi dengan SIPUT, saya pernah datang ke kostnya untuk mengajaknya kuliah-ran seperti biasa. Tapi sial, ada yang menelponnya, “Iyya tunggu saya di halaman”, katanya dengan orang di ajaknya bicara. Saya diusir pelan-pelan, dan ketika di halaman saya menemui seorang lelaki. Oh yah, ini dia, lelaki yang merampas ‘teman jalan’ saya. Saya segera memasang tampang sangar.

"Sekampung yah sama SIPUT?"

"Tidak, teman biasa" Jawabnya, kasiyan juga, dia menjawab seperti seorang tersangka yang diinterogasi.

Sepanjang jalan, saya kesal dan berfikir, pasti itu pacarnya. Saya selalu menunggu si SIPUT cerita yang sebenarnya dengan saya dan bersabar, kehilangan teman jalan, dia yang jadi lain, tidak antusias kalau ada tema yang kulemparkan kepadanya untuk diperbincangkan. Beberapa bulan baru dia jujur karena saya mencoba jadi sahabat yang baik baginya.

Sebenarnya, MBAK DUKUN adalah gelar darinya untuk saya, resminya pas si SIPUT nyusun skripsi. Jurusan yang kami ambil HUKUM INTERNASIONAL, butuh banyak literasi berbahasa asing. Buku-buku bahasa asing di Indonesia tidak begitu banyak bertebaran, menjadikan kami lebih mengandalkan internet.

Celakanya, dia tak bisa kemana-mana sendirian, dia tipe orang yang suka ditemani. Saya sering diajaknya untuk searching di warnet karena saat itu wifi belum familiar. Yah tidak apa-apa jadi ‘budak’nya, lagipula dia sering mengajak makan sebagai upahnya, hahaha. Jika saya tidak sempat menemaninya, dia akan mengsms dan minta ditemani esoknya. Besoknya dia akan bercerita, “Eh, Pak M***** suruh nyari deklarasi blablablabla tapi saya tidak temukan kemarin, coba kau yang cari, Nay!”

Saya mengambil alih komputer sambil mengetikkan di google apa yang dicarinya. “Nih, adaji!” Dengan senang dia akan berujar “Nay, kenapa kalau ada kau selalu kudapat yang ku cari!” Di momen tersebutlah, saya disebutnya sebagai MBAK DUKUN, walau hanya sebagai pajangan di sampingnya duduk, terkadang juga main dibayarkan olehnya, dia nggak tegaan :D Pernah suatu kali, dia (di Jogja) via YM mengeluhkan MOZILLA yang tidak mau terbuka. "Sudah berulang-ulang kurestar tetap nda mau, tapi saya coba lagi deh. Tunggu nah!"

Saya menunggunya memulai percakapan lagi via YM, saya membuka satu halaman baru, hari itu entah mencari apa, saya lupa. Dan Tab YM saya berkedih-kedip. "Dak, thanks! Mmmuaaach. Setelah curhat ma kau, kenapa MOZILLAku bisami terbuka. Kau masih sakti mandraguna" Apa? Saya mirip MANDRA? :D

Saya terkadang meramal, mungkin lebih tepatnya memprediksi. Bedanya, kalau dukun-dukun tradisional pakek kemenyan ma kembang, saya hanya butuh komputer/laptop yang bisa terhubung ke internet. Seorang teman SMA yang sudah pindah ke Palu, jauh sebelum pacaran dengan seorang perempuan, saya sudah memprediksinya mereka akan pacaran, dan benar itu terjadi walau beberapa tahun ditutup-tutupi, maksudnya tidak cerita ke saya. Iyyalah, emang penting gitu dia cerita sama saya. :P
 
Pernah, saya di add seorang lelaki, yang kemudian membuat saya curiga, dia begitu akrab dengan seorang teman perempuan yang telah lebih dulu menjadi temanku. Saya bertanya kepada teman lainnya, saya mengira mereka sudah pacaran, tapi teman saya tak menanggapi. Tapi belakangan, teman perempuan saya ini bercerita kalau dia pacaran dengan seorang asli Toraja, ramalan saya gugur seketika. Tiga bulan berselang, justru mereka masing-masing memajang foto mereka berdampingan di FB, keduanya memasang wajah senang. Ramalanku sebenarnya tidak salah, hanya tertunda. -----haaaaaa?

Saya tak lama kenalan dengan seorang teman, juga lewat FB. Inisialnya OP, saya rajin membagi note-note atau apapun yang menurut saya menarik karena dia pernah meminta saya untuk menjadi kontributor tulisan di majalan digital miliknya (maksudnya proyeknya ma teman-temannya).


itulah kenapa kamu harus ada disini, kamu nonton film yang jarang dinonton orang banyak, dengar musik yang jarang didengar orang banyak..... sebenarnya interest utama mu apa sih?

sembarang, yang penting senang, haha! nulis juga yah adalah sedikit, gambar? coret2 bisa, tapi tidak untuk serius. apa lagi di'? sembarang... haha, saya juga bingung.

Dan tak lama seorang perempuan cantik berkerudung hijau di foto profilnya mengadd saya, mungkin cemburu dengan saya. Ahahaha, lucu saja. Dia atau saya yang lucu, kebingunan ini juga lucu. Dia yang cemburu atau saya yang kePDan telah membuat cemburu pacarnya orang. Ahahahah! Saya belum tahu apakah si jilbab hijau ini benar-benar pacar si OP, ah saya malas menanyakannya!

Mungkin, ini hanya perasaan saya kalau saya memang terlalu peka. Saya teringat nasehat alm. Bapak saya menjelang saya mengikuti Ujian Akhir Nasional sewaktu SD, “Perempuan itu, sangat percaya pada firasat!”, saya sepenuhnya mengiyakan. Semua prediksi yang saya lontarkan mungkin kebetulan saja. Tenang saja, saya ini hanya paranormal, saya pun tidak mengerti mengapa mereka disebut demikian. Bukankah Anda juga paranormal kan, maksudnya normal-normal saja, kan? Memangnya para’tidak’normal itu yang bagaimana?

Oh yah, ini adalah bagian penting dari tulisan ini. Saya memprediksikan JERMAN yang akan jadi pemenang Liga EURO tahun ini! Hahahah. Maaf sebenarnya bukan memprediksikan sih, menjagokan lebih tepatnya. :P


Dak : Badak, panggilan si SIPUT buat saya :D

Sabtu, 09 Juni 2012

SAD EYED LADY OF THE LOWLANDS dan VISIONS OF JOHANNA

With your mercury mouth in the missionary times
And your eyes like smoke and your prayers like rhymes
And your silver cross, and your voice like chimes
Oh, who among them do they think could bury you?
With your pockets well protected at last
And your streetcar visions which you place on the grass
And your flesh like silk, and your face like glass
Who among them do they think could carry you?
Sad-eyed lady of the lowlands
Where the sad-eyed prophet says that no man comes
My warehouse eyes, my Arabian drums
Should I leave them by your gate
Or, sad-eyed lady, should I wait?



Ain’t it just like the night to play tricks when you’re tryin' to be so quiet?
We sit here stranded, though we’re all doin’ our best to deny it
And Louise holds a handful of rain, temptin’ you to defy it
Lights flicker from the opposite loft
In this room the heat pipes just cough
The country music station plays soft
But there’s nothing, really nothing to turn off
Just Louise and her lover so entwined
And these visions of Johanna that conquer my mind


Semua bisa jatuh cinta dan mengungkapkannya, tapi dua cuplikan puisi di atas begitu berbeda. Begitu surealism, betapa dia ingin menggambarkan, apa yang dirasakannya tidak sama dengan perasaan yang pernah/sudah ada. Puisi di atas mungkin hanya akan berakhir di pengkajian para penyair dengan kesimpulan "begitulah puisi, terkadang tak perlu interpretasi" seandainya puisi di atas tidak hidup dalam nada, menumpangkan keindahannya di tiupan harmonika penyanyinya, Bob Dylan.

Teringat sebuah lagu ciptaan Dewi Lestari yang berjudul "Bukan Lagu Cinta", bahwa cinta mungkin telah terlalu banyak mengumbarnya, maka sekarang untuk mengatakan cinta barangkali justru tak butuh kata 'cinta' itu sendiri.

50/50*

Kau mungkin telah berulangkali mengeluhkan dalam hati sakit dadamu, tapi hanya aku yang ingat bagaimana tangan kirimu bergerak dan menempelkannya di dada kananmu. Tak lama kemudian, kau menyulut rokok lagi, menghembuskan asapnya, wajahmu yang berusaha keras melepas perih hilang di telan asap.

Mungkin ini terakhir kali kita bertemu, bukan karena saya tak menyukaimu tapi karena saya tahu kau mudah mengabaikan. Ada sebuah sapu tangan biasanya kupakai untuk melap keringat ketika gugup, tapi tidak kali ini. Sapu tangan itulah keberuntunganku, yang menyimpan bau asap rokokmu walau tak bertahan lama.

Ah, ingatan, tak selamanya berharga. Sial, aku ingin menikah denganmu. Menikah dengan otakmu, dengan kecerdasanmu, tapi tidak dengan kesombonganmu, hatimu pasti tak merestuinya.

*habis nonton ulang 50/50 tadi malam.
  50 dibagi 50, hasilnya 1 keraguan :p

Selasa, 05 Juni 2012

BUTi dan TULa

Orang bilang cinta itu buta, apakah seperti Lady Justice yang sengaja menutup matanya agar bisa mendengar keadilan?
Saya banyak mengatakan cinta tapi kau yang tuli.
http://www.bezbrige.com/index.php/Art/new-look-at-art.html