“Dia itu masih kekanak-kanakan!”
Saya selalu diam, saya telah lama menganggap semua masalah
yang muncul tak penting untuk kalian ketahui, saya berusaha bisa mengambil
keputusan sendiri atas masalah saya sendiri dan akan mempertanggungjawabkan
resikonya. Mengapa kalian datang dan menuntut ini-itu? Susah-susah saya
merencanakan menikmati ‘penyesalan’, menerima diri apa adanya, lalu tiba-tiba kalian
datang, membagi tugas, menambah daftar tuhan yang harus kutaati, menunjukkan
jalan yang baik menurut kalian. Tiba-tiba ada yang jadi sok pahlawan, yang
membuatku merasa tidak penting bahkan bagi kisahku sendiri. Yah ini memang
kisah hidup saya, tapi lagi-lagi orang lainlah pahlawannya, saya tetap jadi
pemeran figuran bahkan bagi kisah hidup saya sendiri, saya melulu jadi
pihak yang ditolong. Cwih! Orang-orang yang merasa terpuji, mendapatkan
pengakuan kelakuan baik dari semua. Apakah itu dewasa, jika tak mengijinkan
orang lain menyesal akan apa yang telah dipilihnya? Kalian semua, orang tua
yang kekanak-kanakan, terus-terusanlah menua dengan pikiran-pikiran kerdil
kalian.
“Semoga dia bisa belajar dan menyelesaikan masalahnya
sendiri!”
Yah, saya siap dengan segala konsekuensi pilihan saya
sendiri, tapi justru kalian telah membuat diri ini seperti anak-anak yang
tangannya selalu ditarik kemana-mana, digiring ke arah kalian yang mau. Bukankah itu
sama saja dengan menganggap saya anak-anak, mendidik saya untuk tetap menjadi
anak-anak. Agh, saya memang selalu anak-anak bagi kalian walau saya telah capek
dianggap seperti itu, sayangnya tak ada tuhan yang capek karena menjadi tuhan memang
menyenangkan.
SAYA MAU DEWASA, TAPI KALIANLAH YANG MEMAKSA SAYA
TERUS-TERUSAN JADI ANAK-ANAK!!!
Cwiiiiiiiiiiiiiiiiiiih!

1 balassurat:
jagan pake cwiiihh sayang...
bagaimanapun kesalnya hati kita, tetaplah berikan sedikit senyuman pada mereka...buanglah kesalmu, mungkin itu adalah bentuk perhatian mereka yang bentuk dan tempatnya keliru :)
buktikan saja bahwa kita memang bisa menjadi dewasa.
miss you
Poskan Komentar