Bagimu, sayalah biang keroknya, yang justru membuatmu akan semakin
mencintainya saja. Kau memasak tiap hari untuk saya tapi saya tak berselera
lagi makan di rumah, saya telah kenyang akan pemaparanmu tentang ketidakpercayaanmu
kepada saya.
Saya sebenarnya sedih tiap kali kau mempertanyakan tentang
ketulusan perasaanku, saya hanya punya rasa walau saya masih tak punya bukti
untuk itu. Saya sedih, terkadang saya merasa butuh seseorang, untuk bercerita,
bersandar, bahkan untuk menggantikanmu. Namun, karena rasa ini telah
mengungkungku, saya telah lama menjadi lelaki sekaligus perempuan bagi diri
saya sendiri, saya tak butuh siapa-siapa. Kesepian ini,lebih dari cukup sebagai
teman untuk menghabiskan sisa hidup ini.
Ada tiga kali panggilan tak terjawab dan satu sms, semuanya
darimu. Pesan itu berisi pesanmu agar saya bisa pulang lebih awal. Maaf, telah
lama saya jarang menjenguk hp, jika tiba-tiba kau menelponku, meminta tolong
karena sesuatu terjadi, mungkin saya tak akan datang. Saya bukan kebahagiaanmu,
tak usah mengharapkan saya datang, hanya akan membuatmu sakit saja.
Kalau orang takut pulang malam, mengapa saya harus dipaksa
seragam dengan mereka? Kita sama sekali tak bertanggung jawab atas tercemarnya
malam oleh dosa-dosa, bukan kita yang berbuat kesalahan-kesalahan itu, jadi buat
apa takut? Lalu mengapa saya masih pulang? Masih adakah yang patut kubuktikan
darimu? Saya mengingatmu, saya mencintaimu, walau kau tak beranggapan seperti
itu! Saya tak bisa menyangkal mencintaimu walau kau lebih mencintainya…

0 balassurat:
Poskan Komentar