Selasa, 15 November 2011

Mari Memeluk Pohon

Save The Tree, salah satu episode Shaun The Sheep yang membuat pikiranku lumayan terjarah dibandingkan episode yang lain. Membuat saya teringat kepala sekolahku waktu sekolah dasar, tempatku menyalurkan rasa ingin tahuku waktu kecil saat jawaban-jawaban yang kudapat dari orang lain justru membuatku semakin bingung. Mulai pertanyaan pelajaran, berita politik yang kudengar sampai dongeng-dongeng pun kutanyakan padanya. Mengapa banyak orang yang takut kepada pohon besar, apakah memang benar ada jin yang hidup di dalamnya? “Itu syirik, tidak boleh. Pohon itu pohon biasa seperti pohon-pohon yang lain!”, begitu jawaban Nenekku.


Tapi jawaban berbeda justru kudapatkan dari Pung Uleng, guru favoritku ini. Dia dengan bijak mengatakan, “Orang jaman dulu membuat cerita seperti itu agar kita menyayangi pohon tersebut, karena pohon itu banyak manfaatnya, dia banyak menghisap air jika curah hujan lebat, kalau kamu jalan-jalan di sana pada siang hari, kamu tidak akan kepanasan kan?”. Saya mengangguk dalam hati. Dia guru terbaik yang pernah kukenal.

Mitos-mitos semacam ini memang pernah hidup di nusantara, banyak orang membawa sesajen di bawah pohon besar, ada pula kepercayaan Hindu yang berasal dari India dimana para bertapa dianjurkan bersemedi di bawah pohon besar. Yah begitulah sejarah mengungkapkan bahwa nusantara terbangun dari nilai mistis, sangat dipengaruhi oleh agama Hindu yang berasal dari India. Di India sendiri, pernah terjadi pemberontakan dahsyat yang ada hubungannya dengan pohon, lebih dikenal dengan nama Chipko Movement, chipko artinya memeluk. Hutan tempat mereka menggantungkan hidup sehari-hari terancam digusur oleh pemerintah. Uniknya, aksi memeluk pohon ini dilakukan oleh para perempuan.

Apakah episode Shaun The Sheep yang ini dipengaruhi oleh Chipko Movement tersebut? Yah kita tidak dapat mengingkari, India pernah sebegitu mengubahnya wajah dunia. Siapa yang tak mengenal Gandhi, masa mudanya dihabiskan untuk belajar menghargai perbedaan tanpa mengikutsertakan kekerasan. Ini seperti menampar keras negara-negara Eropa yang merasa paling ter di dunia dengan memamerkan persenjataannya yang canggih melalui perang. Seketika masyarakat dunia merasa harus pindah haluan, menuju ke Asia. Jadilah pemikiran-pemikiran Gandhi mewarnai dunia, tak lupa ‘sedikit’ kultur India mempengaruhi kaum muda pemberontak perang masa itu.

Kaum ini, kemudian lebih dikenal dengan nama hippy. John Lennon yang sangat mengagumi Gandhi mengantarkan The Beatles memutuskan untuk mengadakan perjalanan spiritual ke India. Jadilah musik ‘empat ajaib’ ini disusupi musik khas sitar petikan George Harrison. The Beatles kemudian melepaskan kostum jas seragamnya dan tak lagi mengenakan rambut moptop. Bukan The Beatles kalau mereka tak bisa mempengaruhi dunia, banyak pemuda mengenakan warna-warni (warna cerah khas India) turun ke jalan seolah menghina media dan televisi yang masih diisi hitam-putih. Mereka mengajak untuk berhenti mendengarkan berita tentang betapa hebatnya negara mereka dengan berperang, pikirkan tentang berapa orang yang telah dibunuh oleh negaramu.


Mereka membagi-bagikan bunga kepada yang mereka temui,  bahkan memasangkan bunga pada moncong senjata para aparat yang mengawal aksi mereka di jalan. Mengajak orang sebanyak mungkin berkumpul di sebuah tanah lapang yang luas, mendengarkan lagu-lagu keresahan akan perang atau sekedar pentas puisi menuntut perdamaian. Kemudian dikenallah Pete Seeger yang terkenal dengan Hammer Song-nya, Bob Dylan yang mengajak kita bertanya kepada angin (lebih tepatnya bertanya pada diri sendiri), atau puisi Allen Ginsberg yang menemukan banyak airmata di ‘library’ negaranya sendiri. Isu tak melulu tentang perang dan damai, masih banyak tema yang mereka suarakan.

They took all the trees, and put em in a tree museum
And they charged the people a dollar and a half to see them
No, no, no, don't it always seem to go
That you don't know what you've got till it's gone
They paved paradise, and put up a parkin' lot

Begitulah rangkaian lagu ciptaan Joni Mitcell membayangkan masa depan. Saat tak ada tempat bagi petani atau sekedar lahan untuk para pejalan kaki karena semuanya telah berfungsi sebagai parkir. Tak ada lahan kosong lagi untuk alam sebab pabrik-pabrik yang begitu banyaknya telah dibiarkan bernafas senyaman mungkin, sementara pohon-pohon telah diawetkan (hanya) menjadi pajangan di museum.

* * *

Beberapa bulan lalu saya sepete-pete* dengan dua orang bule. Mereka menyetop pete-pete ini dari Pasar Sentral menuju ke Terminal Daya. Saya memberanikan bercakap-cakap dengan mereka padahal Bahasa Inggris saya terbilang menyedihkan. Haha! Saya pun tahu, mereka berasal dari New Zealand, tujuan mereka ke Tana Toraja. Tapi, saya sebagai orang timur dibuat mereka lumayan berfikir. Selama ini saya tahu mereka orang yang dimanjakan kecanggihan, mengapa pula mereka mau repot-repot berpanas-panas ria mengendarai pete-pete padahal naik taxi bisa lebih nyaman bagi mereka.

Atau jangan-jangan mereka berwisata ke endonesa justru menghindari kecanggihan, bosan dengan berbagai kemudahan itu, apalagi saya pernah mendengar di Eropa sedang santer-santernya pertanian organik.  Mereka tertarik dan menganggap ketradisionalan unik, kenapa justru kita senang terlihat modern? Tak bisakah kita seperti dua tetanggaan yang berbeda, dimana Barat yang berlimpah kemudahan, sehari-hari menyantap makanan instan, yang sesekali mengunjungi tetangganya si Timur yang masakannya lebih enak dan lebih menggiurkan karena diolah secara alami dan manual? Saya sering sekali menonton di televisi, bule-bule tanpa gengsi membeli keperluannya (itu Thailand apa Filipina yah?) pada penjual pinggir jalan sedangkan kita (dan pemerintah kita) senang menggusur para pedagang kecil untuk memajang mall dengan bangga?

Apakah timur dan barat akan tertukar? Hehe, mari 'memeluk' bumi yang telah jomblo dan jablay...



Nb : tulisan semakin aneh bin ngawur, sepertinya otakku sedang pedekate dengan d.o.
* : angkot

17 balassurat:

Asop mengatakan...

Heran ya, kenapa orang takut ama pohon besar?
Padahal pohon besar itu sumber kayu bakar yang potensial. :D

Skydrugz mengatakan...

umurmu berapa sih?

kok bahan bacaan dan referensi lagumu jadul sekali? :D

Inayah Mangkulla mengatakan...

@Skydrugz : saya lebih suka lagu jadul memang, saya tdk suka mengABG, saya lebih suka pura2 tua. setelah dengar lagu tua, saya jadi lupa umur, saya jadi heran sendiri "mengapa saya bisa hadir di zaman milenium padahl telinga dan hatiku lebih senang menikmati hal-hal jadul", seleraku mungkin seumuran dengan bapak-makku, hehe. The Beatles bilang "Your mother should know!". semua org yang ketemu saya pun bilang begitu, jadi wajarlah SKYDRUGS heran!

HALAMAN PUTIH mengatakan...

Yang jelas kita harus memeluk apapun dengan rasa cinta dan kasih sayang sehingga dunia ini akan penuh dengan kedamaian.

rusydi hikmawan mengatakan...

luar biasa super sekali tulisan ini. memng lebih indah perdamaian ketimbang peperangan. sudah selayaknya kita berpelukan untuk kebersamaan hidup.

Skydrugz mengatakan...

sy bisa bayangkan model berpakaianmu... :D

Inayah Mangkulla mengatakan...

haha... bayangkanmi, nasala-sala

Outbound Malang mengatakan...

berkunjung sob..salam kenal

Skydrugz mengatakan...

u suka pakai baju ya?

kok tw?

krn klo u tidak pake baju...u sdh pasti masuk dadi...

choirunnangim mengatakan...

Semua jelas tercipta punya massa..
Adanya pasti suatu saat akan tidak ada..Mungkin salah satu mengawetkan bumi kita agar tetap ada dengan menanam pohon. tapi percaya ga percaya semua sudah diatur kapan rusaknya.. pemimis? may be

BlogS of Hariyanto mengatakan...

kenapa turis memilih naik pete2 daripada naik taxi, karena orang eropa or amerika yang jadi turis dan datang ke asia or Indonesia memang mencari dan mencoba sesuatu yang tidak ada di negara asalnya, dan itulah yang dijadikan kenikmatan pengalaman uniknya dalam berwisata, dan mereka tidak perlu jauh2 datang ke Makassar, kalau hanya mau mencoba naik Taxi, karena di negara mereka juga ada Taxi :)
yang saya mau cari tahu adalah apakah para Turis Eropa or Amerika juga suka memeluk pohon kalau datang ke Makassar ?

Inayah Mangkulla mengatakan...

@SKYDRUGS : mdedeh

@choirunnangim : jangan khawatir, saya pun termasuk orang yang punya banyak stok pesimis, hehe.

@Hariyanto : "memeluk pohon" hanya kiasanku saja. mereka, ada yang peuli ada juga yang tidak, haha kalau yang itu semua orang dah pada tahu yah? =D

mevi mengatakan...

hayooo.. kerjain skripsinya dengan semangat. masa mengalah sama d.o. wikikiki..

Inayah Mangkulla mengatakan...

@mevi : skripsi sih semangat kerja, tapi ketemu dosennya yang males.. hehe

Accilong mengatakan...

nay, semua PR googlinganq muncul disini. hebat luw nek. koherensinya mantabbbb

Inayah Mangkulla mengatakan...

@terLAMPIR : wewh, gak ada JOKO ANWAR... =P soo, pasti kau googling sekaligus nama mereka dan dapatlah tulisann ini... huahahahah. *GR

Arya Poetra mengatakan...

Klasik selalu terasa Romantis.. :)
Salam Kenal