Jumat, 13 Januari 2017

Sweet Child O' Mine ~ Captain Fantastic Scene

Menonton film ini mengingatkan saya pada keluarga River Phoenix. Orang tuanya memutuskan untuk menjalani hidup dengan gaya hippie. Anak-anak yang tidak menempuh pendidikan formal, petikan gitar dan tiupan harmonika di waktu senggang adalah hiburan paling seru. Gaya hidup hippie artinya mendekatkan diri ke alam, mengembalikan posisi manusia sebagai bagian dari alam tersebut.

Mirip dengan yang ingin diperlihatkan film ini, sepasang suami-istri menjauh dari kota, membangun rumah mereka untuk keluarga mereka di tengah hutan. Mereka baru akan ke kota jika ada kebutuhan mereka yang tidak dapat mereka dapatkan di hutan, kehidupan utopis yang diimpikan oleh yang mencintai alam. Mereka tidak natal, paskah, tapi satu-satunya hari raya yang mereka rayakan adalah hari lahir Noam Chomsky (yea, masuk akal, tidak ada yang menyatukan manusia selain kemanusiaan itu sendiri).

Di bawah ini scene favorit saya. Ibu mereka meninggal, dan wasiatnya ingin dikebumikan seperti kepercayaan yang dianut ibunya, yakni dengan dibakar jasadnya. Maka pergilah mereka mencuri mayat ibunya yang sudah terkubur paginya karena kakek-nenek mereka tidak mengabulkan permintaan sang mendiang.

Mendengar mereka bernyanyi, seperti merayakan kehidupan. Oh ya, saya suka gaya berpakaian mereka.


Sabtu, 26 November 2016

MOANA (2016)





Penggemar kartun yang pakai nyanyi-nyanyi memang masih sulit move on dari FROZEN, tapi maaf, saya bukan penggemar FROZEN. Saya juga kurang suka dengan lagu Let It Go, walau karakter-karakternya berdandan dengan pakaian yang serba berkilau. Tapi hari ini saya menonton MOANA dan berani mengatakan kalau MOANA ini jauh lebih bagus daripada FROZEN.
Moana, seorang gadis dengan naluri berpetualang tapi selalu dilarang berlayar ke lautan oleh ayahnya sang kepala suku di pulau tempat dia hidup. Tapi hati Moana merasa perlu ada yang diperbaiki, para nelayan di pulaunya sudah jarang mendapat ikan, hasil bumi banyak yang rusak. Ada yang salah, Moana percaya takdirnya untuk memperbaikinya. Dongeng yang diceritakan neneknya terbukti. Dia bertemu dengan Maui, manusia setengah dewa yang telah mencuri jantung Te Fiti (dewi yang menjaga keseimbangan alam) dan tentu saja tak mudah meyakinkan Maui agar mau menemani Moana untuk mengembalikan jantung Te Fiti.
Tak ada gaun-gaun mengkilap di sini, tapi lagu-lagu yang terselip di film ini sangat bagus, ini yang tidak saya dapatkan di FROZEN dimana saya merasa kalau lagu-lagunya hanyalah dialog yang dibikin lagu, sedangkan di MOANA ini, seperti lagu yang jadi dialog. Dan saya rasa penggemar LILO AND STITCH bisa sedikit bernostalgia karena cerita MOANA dekat dengan pantai dan Hawai (inspirasi cerita ini dari bangsa Polinesia yang hidup di pulau-pulau yang tersebar di Samudera Pasifik, Hawai salah satunya)

Bonus, lagu favoritku di film ini, bikin terharu dan heroik banget. Aueeee, Aueeeee...

Sabtu, 05 November 2016

Sabtu, 08 Oktober 2016

EINSTEIN ala Unhas

Kemarin nonton Deepwater Horrizon di bioskop, clingak-clinguk kanan-kiri, liat seorang dosen yang kukenal, pas di sebrang, di samping kiri saya. Seorang teman pernah menyuruh saya memperhatikan muka beliau baik-baik ketika dia sedang menjelaskan di depan kelas.

Teman : wey, liatko baik-baik itu Pak Albert, mirip siapa cobak...
Saya : siapa di', ndak tahukak
Teman : miripki Albert Einstein, tooloo, kebetulan sama juga namanya...
Saya : iyya di, ini bapak juga cerdas dan bagus ingatannya...

Iya, bayangkan saja Albert Einstein dengan muka lebih gelap, dengan rambut ikal berwarna hitam. Dia pernah menjawab pertanyaan seorang teman di kelas, kalau referensi jawaban atas pertanyaan teman ini bukunya ada di perpustakaan pusat, rak bagian ini, deret keberapa, warna sampul bukunya, dan halaman berapa topik tersebut ada di dalam buku tersebut. Dia bahkan juga tahu siapa nama panglima perang yang dia bahas, waaaawh...

Memang beberapa kali pernah lihat beliau nunggu nyetop angkot/pete-pete di pinggir jalan depan mall-mall. Saya juga pernah beberapa kali melihatnya sedang duduk menunggu dalam bioskop, saya ingin menyapa, tapi tidak jadi, karena pernah suatu kali saya menyapanya di pinggir jalan dan sepertinya dia tidak mendengarnya, seorang wanita (mungkin putrinya) sedang berjalan mengikutinya berjarak sekitar lima meter tersenyum kepada saya.

Hanya saja, senang mengetahui bahwa dosen senior satu ini ternyata suka nonton film, jempol buat Bapak!